BANYUWANGI — 25/07/2026

Detik-detik mencekam terjadi di Perairan Utara Bali pada Sabtu, 25 Juli 2026. Kapal Motor KM Genius yang membawa muatan sembako akhirnya tenggelam setelah sempat dilaporkan mati mesin sejak pagi. Beruntung, enam anak buah kapal berhasil selamat setelah berjam-jam bertahan di laut dengan rakit darurat yang mereka rakit sendiri dari stereofoam.

Peristiwa ini menjadi bukti bagaimana kepanikan di tengah laut bisa dilawan dengan ketenangan dan kerja sama tim.

Kronologi: Dari Patah As Hingga Tenggelam

Berdasarkan laporan yang diterima Kantor Pencarian dan Pertolongan Banyuwangi, KM Genius bertolak dari Pantai Boom, Banyuwangi, pada pukul 04.00 WIB. Kapal kayu berkapasitas 45 Gross Ton dengan panjang sekitar 24 meter itu bertolak menuju Pagerungan, Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep, membawa muatan campuran berupa sembako.

Sekitar pukul 10.00 WIB, saat melintas di Perairan Utara Bali, nahas menimpa. As mesin kapal patah. Mesin mati total. Tanpa tenaga penggerak, KM Genius hanya bisa terombang-ambing dan perlahan kemasukan air.

Laporan resmi baru masuk ke petugas sekitar pukul 10.48 WIB dari anggota Polairud Banyuwangi. Mendengar kabar kapal nyaris tenggelam, Tim Rescue Kantor Pencarian dan Pertolongan Banyuwangi langsung bergerak dari Pantai Boom menggunakan RIB 02 Banyuwangi. Peralatan water rescue dan perangkat komunikasi lengkap dibawa serta.

Bertahan Hidup di Atas Stereofoam

Operasi pencarian tidak dilakukan sendirian. Tim gabungan dikerahkan: Pos SAR Buleleng, Polairud Banyuwangi, KSOP Tanjungwangi, BPTD Pantai Boom, hingga para nelayan yang kebetulan melaut di sekitar lokasi.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banyuwangi, I Made Oka Astawa, mengatakan tim yang berangkat sejak subuh akhirnya menemukan keenam ABK tidak jauh dari titik kapal tenggelam, di perairan utara Pantai Buleleng.

“Hari ini operasi SAR untuk kecelakaan KM Genius. Tim yang berangkat subuh berhasil menemukan enam kru dalam kondisi selamat. Mereka kami evakuasi tidak jauh dari lokasi kapal tenggelam,” ujar Oka Astawa.

Yang membuat banyak orang terkejut adalah cara para ABK bertahan. Di tengah laut lepas tanpa sekoci, mereka merakit stereofoam yang ada di kapal menjadi pelampung darurat. Dengan alat seadanya itu mereka mengapung dan menunggu pertolongan datang.

“Target berhasil kami temukan. Enam kru menggunakan stereofoam yang dirakit, kemudian kami evakuasi menuju Pelabuhan Tanjungwangi,” kata Oka.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Keenam ABK dievakuasi dalam keadaan selamat dan langsung mendapat penanganan awal di pelabuhan.

Kerja Tim yang Menentukan

Keberhasilan penyelamatan ini tidak lepas dari respons cepat lintas instansi. Dari laporan awal hingga evakuasi, koordinasi antara Basarnas Banyuwangi dan Buleleng berjalan cepat. Ditambah bantuan nelayan setempat yang hafal betul kondisi perairan utara Bali, proses pencarian bisa dipersingkat.

KM Genius sendiri merupakan kapal kayu yang kerap melayani rute Banyuwangi ke Kepulauan Kangean. Rute ini dikenal menantang karena harus melintasi Selat Bali dan Laut Jawa, dengan cuaca yang bisa berubah cepat.

Peristiwa ini juga menjadi pengingat pentingnya alat keselamatan di kapal. Dalam kasus KM Genius, kreativitas para ABK merakit stereofoam menjadi penentu hidup dan mati saat menunggu tim SAR tiba.

Saat ini penyebab pasti patahnya as mesin masih dalam penyelidikan. Sementara itu, keenam ABK telah dipulangkan dan diminta untuk melapor ke KSOP Tanjungwangi untuk pendataan lebih lanjut.

Bagi warga pesisir Banyuwangi dan Buleleng, kisah selamatnya KM Genius hari ini menjadi cerita tentang bagaimana di tengah bahaya, solidaritas dan akal cepat bisa menyelamatkan nyawa.