KRISIS AIR! 100 Rumah di Banyuwangi Kekeringan, Padahal Hutan Masih Rimbun

BANYUWANGI –01/08/2026

Sebuah ironi di kabupaten Banyuwangi. Di tengah predikat kabupaten dengan hutan yang masih terawat baik, warga justru mulai menjerit akibat krisis air bersih. 

Musim kemarau 2026 mulai berdampak. Sedikitnya 100 rumah di Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, kini kesulitan air setelah sumur-sumur warga mengering

DUA DUSUN TERDAMPAK,

BPBD TURUN TANGAN 

Wilayah yang terdampak adalah Dusun Sendangrejo dan Dusun Kebonrejo yang berada di kawasan lereng Gunung Srawet.

Dari total sekitar 380 Kepala Keluarga di dua dusun tersebut, sekitar 100 rumah sudah merasakan dampak langsung. Sumur gali dan sumur bor warga sudah tidak lagi mengeluarkan air sejak dua minggu terakhir.

"Untuk masak dan mandi saja kami ngantri. Kalau tidak ada bantuan air, bingung," kata Sutikno, 45, warga Dusun Sendangrejo, Jumat (31/7/2026).

Merespons kondisi itu, BPBD Banyuwangi bersama Pemerintah Desa Kebondalem dan PMI mulai menyalurkan bantuan air bersih. Satu tangki air bersih berkapasitas 5.000 liter didistribusikan setiap dua hari sekali untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.

"Kami prioritaskan untuk kebutuhan minum, masak, dan MCK. Ini sifatnya darurat sambil menunggu hujan," ujar PLt Kepala BPBD Banyuwangi, PARTANA

Ironi : Hutan Rimbun Tapi Sumur Kering

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar. Banyuwangi selama ini dikenal memiliki kawasan hutan yang masih relatif terjaga. Baik hutan Perhutani maupun hutan milik perusahaan perkebunan di lereng Gunung Srawet, Ijen, dan Raung kerap dilaporkan berfungsi sebagai daerah resapan air yang baik.

Lantas mengapa krisis tetap terjadi?

Pakar lingkungan dari Universitas Brawijaya, Dr. Bagus Priambodo, menyebut, "hutan rimbun" saja tidak cukup jika fungsi resapannya tidak dijaga.

"Serapan air itu butuh tindakan nyata, bukan hanya seremoni tanam pohon tiap 10 Juni atau Hari Menanam Pohon. Yang penting itu bagaimana tutupan lahan, bagaimana drainase, bagaimana perusahaan mengelola limbah dan sumur resapan," jelasnya.

Ia menambahkan, alih fungsi lahan di hulu, penggunaan air berlebihan untuk pertanian, hingga tidak adanya sumur resapan di permukiman bisa memperparah kekeringan meski hutannya masih ada.

Pemkab Diminta Libatkan Perusahaan

Tokoh masyarakat Bangorejo, Suwito, menilai Pemkab Banyuwangi harus segera mengambil langkah konkret, bukan hanya bantuan air tangki.

"Jangan hanya bagi-bagi air. Ini sudah tahun ke-3 Sendangrejo dan Kebonrejo kekeringan saat kemarau. Harus ada sumur bor dalam, embung, atau pipa dari sumber mata air," ujarnya.

Ia juga menyoroti peran perusahaan yang beroperasi di sekitar hutan. 

"Pemkab harus mengajak semua perusahaan yang ada di Banyuwangi untuk aktif terlibat merawat hutan dan resapan air. Jangan hanya CSR tanam pohon seremonial. Buat cek dam, biopori, konservasi mata air. Itu yang dirasakan warga," tegas Suwito.

DATA DAN UPAYA JANGKA PANJANG

Berdasarkan data BPBD Banyuwangi, hingga akhir Juli 2026 ada 8 desa di 5 kecamatan yang masuk kategori rawan kekeringan. Selain Bangorejo, ada Tegaldlimo, Purwoharjo, Siliragung, dan Wongsorejo.

Upaya jangka panjang yang disiapkan Pemkab antara lain:

1. Pembuatan sumur bor dalam di titik-titik krisis

2. Rehabilitasi embung dan mata air di lereng Gunung Srawet

3. Gerakan 1 juta sumur resapan di tingkat RT/RW

4. Kerjasama dengan Perhutani dan perusahaan untuk penguatan daerah tangkapan air

Kepala Dinas LH Banyuwangi, Bayu Hariyanto, mengatakan pihaknya akan audit perusahaan terkait izin penggunaan air tanah dan kewajiban CSR lingkungan.

"Kami tidak mau ada perusahaan yang hanya ambil keuntungan dari sumber daya Banyuwangi tapi tidak ikut menjaga kelestariannya," katanya.

Bagi warga Kebondalem, bantuan air tangki hanya solusi sementara. Mereka berharap pemerintah dan perusahaan segera membangun infrastruktur air permanen.

"Anak-anak mau sekolah, mau mandi susah. Kami mohon Pak Bupati lihat kami. Hutan di atas sana masih hijau, tapi sumur kami kering. Tolong carikan solusinya," harap Sumiati, ibu rumah tangga di Dusun Kebonrejo.

Krisis air di Kebondalem menjadi pengingat. Menjaga hutan saja tidak cukup. Harus ada kolaborasi nyata antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat untuk merawat resapan air.

Jika tidak, ironi "hutan hijau tapi warga haus" akan terus berulang setiap musim kemarau tiba. INFOMASUK