BANYUWANGI - Upaya penyelamatan debit air Sungai Setail yang terus menyusut setiap tahun mulai menemukan titik terang. Pada Rabu, 16 September 2026 hari ini, Lembaga Konservasi Hutan Bumi Blambangan (LKHBB) bersama dua Kelompok Tani Hutan (KTH) binaan, KTH Berkah Abadi dan KTH Rimba Mulya Desa Jambewangi, Kepala Desa Jambewangi MASKUR,S.Ag., pemerhati lingkungan DARSELO WATUPRAU turut mendampingi Administratur (ADM) Perhutani KPH Banyuwangi Barat, Enny Handhayany Yanto Saputro, meninjau langsung calon lokasi pusat kegiatan konservasi.

Lokasi yang ditinjau berada di Petak 60i, RPH Sidomulyo, BKPH Kalisetail, KPH Banyuwangi Barat, yang beralamatkan di Dusun Parastembok, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi.

Peninjauan ini merupakan tindak lanjut dari permohonan resmi yang diajukan oleh LKHBB kepada Perhutani untuk memanfaatkan lahan tersebut sebagai pusat edukasi dan aksi konservasi hutan.

Bukan Sekedar Menanam, Tapi Sekolah Alam

Ketua LKHBB, Nurhamid, menjelaskan bahwa lokasi ini nantinya tidak hanya akan menjadi pos penjagaan hutan. Lebih dari itu, pihaknya menggagas konsep sekolah non-formal berbasis konservasi.

"Langkah ini merupakan upaya penyelamatan debit air Sungai Setail yang setiap tahunnya menyusut. Kami ingin membangun kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian hutan dengan aksi nyata," ujar Nurhamid di lokasi.

Nantinya, di Petak 60i ini akan dibangun tempat persemaian tanaman keras yang memiliki daya serap air tinggi. Beberapa jenis yang akan difokuskan antara lain pohon sukun, aren, beringin, bambu, dan berbagai tanaman endemik pengikat air lainnya.

Tanaman-tanaman tersebut nantinya akan ditanam kembali di daerah tangkapan air (catchment area) di sekitar hulu Sungai Setail yang kondisinya sudah mulai rusak dan gundul.

"Kami berharap dukungan dari semua pihak, stakeholder dan pemangku wilayah hutan untuk bisa berkolaborasi. Penyelamatan ekologi ini tidak bisa dilakukan sendiri, harus bersama-sama," tegas Nurhamid.

Soroti Pembalakan Liar di Dekat Air Terjun Lider

Sementara itu, Sekretaris LKHBB yang juga pengurus Pokmas Peduli Sungai Setail desa Sempu Ryan Achmadi, menyoroti persoalan serius yang mengancam kelangsungan Sungai Setail.

Ia mengungkapkan, kejadian pembabatan pohon-pohon besar di kawasan hutan lindung secara ilegal yang terjadi beberapa waktu lalu di sebelah barat Air Terjun Lider, sangat berpotensi mengurangi pasokan air.

Menurutnya, Sungai Setail disuplai oleh beberapa anak sungai, di antaranya Sungai Kedawung dan Sungai Lateng. Jika hutan di hulunya terus dirusak, dampaknya akan sangat fatal.

"Padahal masyarakat di wilayah hilir seperti Muncar, Tegaldlimo, Purwoharjo, dan Gambiran sangat bergantung pada air Sungai Setail untuk pertanian. Kalau hulunya rusak, yang menderita adalah petani di bawah," jelas Ryan.

Dengan adanya pusat konservasi di Parastembok ini, diharapkan menjadi benteng penjaga hulu sekaligus pusat gerakan reboisasi yang melibatkan masyarakat secara langsung.

ADM Perhutani KPH Banyuwangi Barat, Enny Handhayany Yanto Saputro, dalam kunjungan tersebut menyambut positif inisiatif LKHBB dan KTH. Sinergi antara Perhutani, LMDH, KTH, dan lembaga konservasi dinilai menjadi kunci utama menjaga kelestarian hutan di Banyuwangi Barat tetap lestari dan berfungsi sebagai penyangga kehidupan.

INFOMASUK.COM